BERJALAN DI ATAS API


oleh | AMS

Dalam sebuah event pelatihan yang sering saya adakan di lembaga pelatihan manajemen kepemimpinan Insan Dinami Indonesia yang saya pimpin, terdapat suatu aktifitas yang menantang peserta yaitu berjalan di atas api, sebuah kegiatan untuk mendobrak keyakinan bahwa setiap kita bisa menghadapi rintangan hidup apapun (breaking the barrier). Dalam kegiatan itu para peserta diminta untuk berjalan di atas sederet arang yang dibakar dengan api yang menyala-nyala walaupun jarak lintasannya tidak terlalu jauh namun cukup menantang.

Pada awalnya para peserta diliputi rasa ketakutan dan kekhawatiran untuk melangkahkan kaki di atas kobaran api, namun saat mereka telah benar-benar melangkah dan telah sampai di ujung lintasan ternyata ketakutan itu tidaklah sebagaimana yang mereka bayangkan.

Setelah semua peserta menyelesaikan lintasan, saya mencoba mendalami pengalaman mereka tentang apa yang dirasakannya dan mencoba mengambil pelajaran (learning point) dari apa yang telah mereka alami. Beberapa hal yang dapat diambil pelajaran bahwa seseorang sering kali terlalu mendramatisir suatu persoalan yang belum terjadi . Hal ini pun sangatlah manusiawi, karena peristiwa masa depan adalah sebuah misteri. Tidak ada satupun diantara kita yang mengetahui tentang apa yang akan terjadi. Bahkan atas persoalan yang belum terjadi seringkali kita terlalu mendramatisir, baik over convidence atau under estimate.

Pada mereka yang over convidence cenderung menganggap remeh persoalan masa depan, bahkan menyombongkan diri sehingga melemahkan kejelian yang menjadikan seseorang kurang waspada atas tantangan masa depan. Sementara seseorang yang under estimate akan masa depan cenderung tidak punya rasa percaya diri, penuh ketakutan dan kekhawatiran dalam melangkah dan mengambil keputusan karena mereka terlalu mendramatisir persoalan dan realitas yang belum terjadi. Inilah yang saya sebut dengan dramatisasi ketakutan. Yaitu masalah yang kita hadapi sesungguhnya bisa jadi tidaklah sebesar atau tidaklah menakutkan seperti halnya yang kita bayangkan.

Jika seseorang khawatir dan takut dalam menjalani tantangan masa depan bahkan cenderung mendramatisirnya maka ketakutan itu akan semakin menakut-nakuti dirinya sehingga hilang rasa percaya diri. Perasaan takut dan khawatir adalah hal wajar dalam diri manusia, namun manakala kita berdiam diri bahkan menarik diri dan tidak berani melangkah maka ketakutan itu akan semakin menjadi-jadi bahkan menakut-nakuti kita, sehingga jadilah pribadi yang kerdil. Jika kita semakin takut maka ketakutan akan semakin menakut-nakuti kita.

Kehidupan dengan beragam persoalannya ibarat api yang terus menerus menyala dan siap membakar siapa saja yang menghentikan langkah kaki di tengah perjalanan mengarungi tantangan kehidupan. Berhenti di tengah kobaran api masalah ibarat menyediakan diri untuk membakar dirinya, bunuh diri, dan itu adalag tanda keputusasaan. Sementara agama menolak keras bersikap putus asa saat menghadapi masalah. Orang yang mudah putus ada ibarat orang yang telah melepas kepercayaannya atas kehadiran pertolongan Allah. Mereka seakan lemah keyakinan bahwa Allah swt selalu membersamainya. Karena itulah Allah swt melarang sikap berputus asa ini, sebagaimana dalam Firman-Nya :

… وَلَا تَاْيۡـَٔسُواْ مِن رَّوۡحِ ٱللَّهِۖ إِنَّهُۥ لَا يَاْيۡـَٔسُ مِن رَّوۡحِ ٱللَّهِ إِلَّا ٱلۡقَوۡمُ ٱلۡكَٰفِرُونَ

“…. dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir.” (QS. Yusuf, : 87)

Bahkan sikap putus asa dikategorikan ibarat orang kafir yang tidak percaya pada Allah swt, artinya mereka yang berputus asa adalah orang yang lemah imannya bahkan bisa dikategorikan pula tidaklah beriman, tidal percaya kepada Allah atas keberadaan-Nya dan segala pertolongan-Nya.

Sehingga bagi seorang yang beriman tidaklah pantas putus asa bahkan mereka harus selalu percaya diri penuh keyakinan dalam melangkah dan menghadapi tantangan persoalan masa depan. Hanya dengan keyakinanlah segala persoalan akan bisa teratasi.

Demikian juga ada pula seseorang yang pada saat melintasi kobaran api tantangan kehidupan masa depan melintasi dengan tergesa-gesa bahkan berlari ketakutan dengan alasan agar segera sampai di ujung tantangan/masalah. Maka ketahuilah, bahwa pada orang dengan tipe yang seperti ini, sejatinya dalam diri mereka masih ada kekhawatiran dan ketakutan dalam menjalani persoalan/tantangan kehidupan. Hal demikian bukanlah semakin cepat terselesaikan masalah bahkan bisa jadi menimbulkan masalah baru bagi dirinya atau lingkungannya.

Lalu apa yang harus dilakukan oleh seorang yang memiliki iman atas tantangan dan persoalan masa depan ?. Yaitu laluilah semua itu dengan penuh percaya diri, tataplah masa depan dengan langkah tegap, santai namun tetap yakin bahwa diri kita mampu melaluinya dengan selamat atas sebuah keyakinan bahwa tidak ada satupun persoalan yang kita hadapi kecuali semua itu telah disesuaikan kadarnya dengan kemampuan diri kita dan tidaklah ada sebuah persoalan kecuali pasti ada solusinya. Demikianlah mereka yang memiliki keyakinan utuh atas Allah dan Taqdir ketetapan Allah swt. Allah swt berfirman :

لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفۡسًا إِلَّا وُسۡعَهَاۚ…

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya..”.( Al-Baqarah : 286)

Semoga Allah swt selalu memberikan keyakinan yang utuh dalam diri kita bahwa segala sesuatu tidaklah akan terjadi kecuali semua itu telah ditetapkan yang terbaik untuk diri kita dan sesuai dengan kadar kemampuan kita. Semoga Allah swt selalu memberikan bimbingannya dan petunjukkan pada saat kita menghadapi beragam problematika kehidupan ini. Aamiiiin…

AMS : 24.6.2019

???☘???❤?☘

pesantrenmahasiswa

tanwiralafkar

sentradakwah

pesantrenleadership

motivatornasional

penulis_buku_hatinurani

Klik web kami :
www.insandinami.com

? AYO SHARE DAN VIRALKAN KEBAIKAN

  • tags

Related Posts

Got Something To Say:

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*